Sabtu, 28 Juni 2014

Dia (II)

Malam yang datang, dihiasi cahaya rembulan dan gemerlip bintang-bintang yang bertaburan di angkasa, mereka semua mengundangmu hadir..
Hadir disela-sela padatnya pikiranku, menyelinap di antara relung-relung hatiku yang sepi dan membuatku tertarik untuk meninggalkan sejenak tugas-tugas di sekelilingku..
 Saat Kupandangi sinar rembulan dan bintang-bintang yang indah, ternyata sang bayu datang membawamu ke sisiku..
Kita bicara, namun hanya dalam bahasa diam..
Walau hadirmu hanya khayalan..
 Tapi kehadiran mu membuatku merasa tenang dalam linangan air mata..
Kau ada, tapi kau semu bagiku..
Kau nyata, tapi kau hanya ilusiku..
Walau setiap pagi kau hadir disisiku, memberikan senyum terindahmu..
Walau setiap malam kau hadir, menemaniku disela-sela kekosongan hati..
Kau selalu ada, selalu datang dan kemudian kau berlalu..
Tanpa pernah kutahu kemana kini kau berlabuh..


dia

Dan ketika aku akan menuliskan sebuah puisi cinta,
Aku tak bisa lagi menuliskanya karena hati ini tak bisa lagi merasakan getaran yang ada,
Rasa itu telah lama pergi, dan hingga saat ini belum kembali,
Walau sudah kucari, namun entah rasa itu tak pernah ku temui lagi..
Rasa itu hilang dibawa seseorang yang tak pernah lagi muncul,
Rasa yang awalnya jernih, kini berubah pekat dan gelap..
Hasratku kini berkelana melewati batas-batas ilusi untuk mencari dia,
Tapi raga ku disini. Menunggu.. dan entah sampai kapan??
Kini aku bukan lagi anak remaja yang hanya bisa memendam rasa,
Rasa yang kian lama membuat sesak di dada..
Kini aku telah dewasa..
Andai dia benar-benar ada disisiku..
Aku akan mengatakan yang sebenarnya..
Namun, kini dia tak pernah terlihat, dia hanya nyata dalam imajiku…
Aku hanya ingin mengatakanya, agar tak ada lagi ganjalan yang selalu membuatku sesak,
 membuatku merasa gelisah karena selalu memendamnya..
aku hanya ingin mengakhiri rasa yang singgah selama bertahun-tahun di hatiku..
agar aku bisa menjalani hariku bersama dengan jiwaku..bersatu..dan itu akan membuatku merasa benar-benar utuh..